16 September 2025 pukul 02.30
Posted by Moch Septian Bagus Mahendra
Surabaya menjadi kawasan Industri:
Tampak bagian depan Pabrik Colibri Surabaya
Sumber: DISPERPUSIP JATIM https://sikn.jatimprov.go.id/index.php/suasana-depan-pabrik-unilever-pabrik-komestik-colibri-nv-pada-aksi-pemogokan-kampanye-pembebasan-irian-barat-di-surabaya-2-12-1957
Peta Industri Terpadu (Industrial estate) di Kawasan Ngagel Surabaya Zaman Gemeente Surabaya.
Sumber: https://terassurabaya.com//2019/10/16/ngagel-industrial-estate-di-surabaya/
Pada abad ke-19 tepatnya di tahun 1930, sejak diberlakukannya peraturan "tanam paksa" yang memunculkan industri pengolahan yang menggunakan mesin. Wilayah karesidenan Surabaya telah menjadi satu kawasan ekonomi yang penting, baik sebagai penghasil komoditi ekspor, industri, maupun perdagangan. Pada masa ini, Surabaya merupakan salah satu dari tujuh karesidenan yang ada di provinsi Jawa Timur yang mengalami perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Ketika praktek liberalisme diterapkan di Hindia Belanda, di tandai dengan keluarnya undang-undang Agraria tahun 1870. Dengan di berlakukannya undang-undang Agraria tahun 1870, yang melegalkan penyewaan tanah-tanah kepada pihak swasta, tetapi sebagian lagi sudah terjadi sejak zaman VOC yang kemudian melahirkan istilah Tanah Partikelir (Particuliere Landerijen). Dalam periode tersebut kemudian di manfaatkan para investor-investor asing untuk menanamkan modalnya di Hindia Belanda. Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga pusat industri sejak era kolonial. Salah satu pabrik yang meninggalkan jejak sejarah adalah Pabrik Colibri, produsen sabun dan minyak wangi yang pernah berjaya. Kisahnya adalah bagian dari perjalanan panjang kota dalam dunia perdagangan dan industri.
Berdirinya Pabrik Colibri:
Iklan berisi Tentang Pembelian Pabrik Colibri milik Perusahaan Georg Dralle N.V oleh Perusahaan Lever's Zeepfabrieken N.V
Sumber: Soerabaijasch Handelsblad 28-04-1941
Pada tahun 1885, di Inggris terdapat sebuah perusahaan bernama Lever Brother Company yang didirikan oleh William Hasketh Lever dan James Darcy Lever. Pada awalnya, perusahaan ini memproduksi sabun cuci dengan merk Sunglight. Namun tingginya permintaan pasar akan sabun dan banyaknya perusahaan sejenisnya yang mulai bermunculan mengakibatkan direktur perusahaan Leve's yang berada di Batavia merencanakan mendirikan pabrik sabun baru di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pembangunan pabrik baru ini bertujuan untuk membantu produksi pabrik Lever's Zeepfabrieken N.V di Batavia yang mana untuk mendiversifikasi produk sabunnya dan untuk memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi dengan diversifikasi produk di sektor pasta gigi dan berbagai jenis kosmetik, Lever's berhasil mengambil ahli pabrik kosmetik G. Dralle yang sebelumnya dimiliki oleh perusahaan Jerman Georg Dralle N.V tersebut kepada perusahaan Lever's Zeepfabrieken N.V di Batavia pada tanggal 10 Mei 1940, dan menggantinya dengan nama Maatschapij Ter Exploitate der Colibri Fabrieken N.V. Pabrik Colibri berdiri pada masa kolonial Belanda. Nama “Colibri” terinspirasi dari burung kecil yang lincah dan penuh warna, melambangkan keharuman serta kelembutan produk yang dihasilkan. Dari awalnya memproduksi sabun dan parfum untuk kalangan Eropa, pabrik ini berkembang pesat berkat tingginya permintaan masyarakat Hindia Belanda.
Colibri di Masa Kejayaan dan Ragam Produknya:
Pada puncak kejayaannya, Colibri menjadi salah satu produsen sabun dan minyak wangi terkemuka di Jawa. Produk-produknya terkenal tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di berbagai kota besar. Iklan-iklan Colibri kerap muncul di surat kabar, menandakan betapa kuatnya posisi merek ini dalam pasar. Pabrik ini juga menyerap banyak tenaga kerja lokal, sehingga ikut menggerakkan roda ekonomi Surabaya.
Produk-produk yang di hasilkan secara garis besar, hasil produksi dari pabrik Colibri ini dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis, yaitu:
- Toilet soap/sabun toilet Terdiri dari: Lifebuoy, Lux Whiledan dan Lux pink.
- IDI (Industrial Detergent and Institutional/atau pembersi khusus)Terdiri dari: Clax, Hamix, Cygnel Bleach, Cygnel Suur, Industrial Vim, Vim Scourer, Vim Bleach dan SU 357.
- Produk yang berupa air (Liquid)Terdiri dari: SL Dishwash, Vim Floor Cleaner, SU 896 Oven Cleaner, SU 471 Acid Discaler, Surnazon Super, Sumabrite, Nubla Liquid, Nubla Carpet Cleaner, Demon Pina dan Conlerl Softener.
- Produk yang berupa CreamTerdiri dari: Omo Cream dan SL Cream.
Foto para buruh pabrik Colibri Surabaya
Sumber: DISPERPUSIP JATIM https://sikn.jatimprov.go.id/index.php/suasana-dalam-pabrik-unilever-pabrik-komestik-colibri-nv-terlihat-para-karyawan-perempuan-terlihat-sedang-bersantai-pada-aksi-pemogokan-kampanye-pembebasan-irian-barat-di-surabaya-2-12-1960
Pabrik Colibri di masa kependudukan jepang:
Surat Kabar Berisi Tentang Pembukaan Kembali Pabrik Sabun Colibri di Ngagel Surabaya Pasca Perang Dunia II
Sumber: Nieuwe Courant 2-11-1946
Kedatangan Jepang ke Hindia Belanda pada tahun 1942 membawa perubahan besar bagi dunia industri di Surabaya, termasuk Pabrik Colibri. Jika pada masa kolonial Belanda pabrik-pabrik berjalan dengan sistem perdagangan yang teratur, maka pada masa pendudukan Jepang semua industri diarahkan untuk mendukung kebutuhan perang. Pabrik Colibri yang sebelumnya dikenal sebagai produsen sabun untuk kebutuhan rumah tangga, kemungkinan besar mengalami penyesuaian besar. Produksi sabun dan kebutuhan sehari-hari tidak lagi diprioritaskan untuk pasar bebas, melainkan diarahkan untuk kepentingan militer Jepang dan pemerintah pendudukan. Sabun menjadi salah satu komoditas penting untuk menjaga kebersihan tentara, sehingga pabrik seperti Colibri dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut. Namun, di balik itu, kondisi tenaga kerja semakin berat. Buruh lokal bekerja dalam pengawasan ketat dengan jam kerja panjang dan upah rendah. Jepang terkenal menerapkan sistem kerja paksa (romusha), sehingga banyak pekerja pabrik harus menjalani kondisi yang lebih keras daripada masa kolonial Belanda. Tidak jarang, kelangkaan bahan baku membuat produksi terhenti atau berjalan terbatas. Situasi perang juga memengaruhi distribusi. Kota Surabaya sebagai pusat industri dan pelabuhan strategis menjadi sasaran penting, sehingga jalur perdagangan dan suplai bahan baku sering terganggu. Bagi masyarakat, sabun Colibri yang dulu mudah ditemukan mulai menjadi barang langka, bahkan mungkin hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu atau pihak militer Jepang. Masa kependudukan Jepang benar-benar menjadi periode penuh tekanan bagi industri lokal. Meski begitu, keberadaan pabrik seperti Colibri tetap menyisakan jejak penting, karena menunjukkan bagaimana industri Surabaya bertahan di tengah krisis global dan pendudukan militer yang keras.
Pabrik Colibri pada masa Revolusioner dan Pasca Kemerdekaan:
Ketika Jepang menyerah pada Sekutu di bulan Agustus 1945, Surabaya memasuki masa penuh gejolak. Pabrik-pabrik yang sebelumnya berada di bawah kendali militer Jepang, termasuk Colibri, menghadapi kekosongan kekuasaan. Para buruh dan masyarakat sekitar mencoba mengambil alih aset-aset industri yang ditinggalkan. Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama, karena Belanda berusaha kembali menegakkan kekuasaan melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Dalam masa peralihan ini, Pabrik Colibri kemungkinan besar mengalami masa stagnasi. Produksi sabun yang sempat diarahkan untuk kepentingan Jepang harus beradaptasi lagi dengan situasi baru, sementara kondisi politik yang belum stabil membuat distribusi barang masih tersendat.
Surabaya menjadi salah satu pusat pertempuran besar melawan Belanda, terutama peristiwa 10 November 1945. Akibatnya, banyak kawasan industri terguncang, termasuk pabrik-pabrik yang berada di sekitar pelabuhan dan pusat kota. Tidak sedikit bangunan pabrik yang rusak atau terbengkalai akibat konflik bersenjata. Meski begitu, industri sabun tetap dibutuhkan. Pabrik Colibri, dalam keterbatasannya, tetap menjadi simbol keberlangsungan ekonomi rakyat Surabaya. Ada kemungkinan pabrik beroperasi secara terbatas atau bahkan berpindah kendali sementara, seiring tarik-menarik kekuasaan antara Belanda dan Republik Indonesia.
Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, pemerintah Indonesia mulai menata ulang sektor industri nasional. Pabrik Colibri yang semula dibangun di era kolonial menjadi bagian dari dinamika baru ekonomi Indonesia. Pada masa ini, banyak pabrik Belanda dinasionalisasi atau dialihkan pengelolaannya, meski sebagian tetap berjalan dengan campuran modal lama. Colibri tetap dikenal masyarakat sebagai sabun legendaris produksi Surabaya. Meski menghadapi persaingan dengan merek sabun lain, baik lokal maupun impor, namanya masih melekat kuat di kalangan konsumen. Masa pasca kemerdekaan menandai awal dari upaya mempertahankan eksistensi industri lokal di tengah arus modernisasi dan perubahan besar ekonomi Indonesia.
Pabrik colibri di era modern 1960-1990:
Memasuki dekade 1960-an, Indonesia berada pada masa transisi politik dan ekonomi. Pemerintah mulai gencar mendorong kemandirian industri dalam negeri. Di Surabaya, sejumlah pabrik tua peninggalan kolonial, termasuk Colibri, tetap beroperasi meski menghadapi berbagai tantangan. Pada periode ini, sabun Colibri masih menjadi salah satu pilihan populer masyarakat karena harganya terjangkau dan kualitasnya sudah dikenal sejak lama.
Era 1970–1980-an menjadi masa yang menentukan bagi Colibri. Kehadiran merek-merek sabun baru, baik produksi dalam negeri maupun luar negeri, membawa persaingan yang semakin ketat. Perusahaan besar dengan modal kuat mulai menguasai pasar dengan iklan modern di televisi dan media massa. Sementara itu, Colibri lebih mengandalkan nama besar dan loyalitas konsumen lama, terutama di wilayah Jawa Timur.
Meski perlahan mulai tersisih oleh produk-produk sabun nasional yang lebih agresif dalam pemasaran, Colibri tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Banyak keluarga yang masih setia menggunakan sabun ini karena aroma khasnya yang dianggap “legendaris”. Bahkan, bagi sebagian warga Surabaya, Colibri bukan sekadar sabun, melainkan bagian dari identitas kota industri yang pernah jaya di masa lalu.
Menjelang akhir 1980-an hingga 1990-an, tanda-tanda kemunduran Colibri semakin nyata. Modernisasi produksi, distribusi yang lebih luas, dan strategi pemasaran besar-besaran membuat sabun lokal seperti Colibri sulit bertahan. Perlahan, pabriknya tidak lagi segemilang dulu, hingga akhirnya nama Colibri mulai jarang terdengar di pasar. Namun demikian, kenangan akan kejayaan sabun ini masih melekat kuat pada generasi yang pernah menggunakannya.
Tutupnya pabrik Colibri:
Setelah melewati lebih dari setengah abad perjalanan, Pabrik Colibri akhirnya tidak mampu bertahan menghadapi derasnya persaingan industri sabun modern. Memasuki era 1990-an, pasar sabun di Indonesia dikuasai oleh perusahaan besar dengan teknologi produksi mutakhir, distribusi nasional, dan kampanye iklan yang masif. Dalam situasi ini, Colibri yang beroperasi dengan sistem produksi lama sulit mengejar ketertinggalannya.
Satu per satu mesin produksi berhenti beroperasi, dan tenaga kerja yang dulunya berjumlah ratusan mulai berkurang. Hingga akhirnya, pabrik yang dahulu harum namanya di Surabaya itu benar-benar tutup. Gedung-gedungnya yang pernah menjadi saksi kejayaan industri sabun hanya menyisakan kenangan bagi masyarakat sekitar.
Meski tak lagi beroperasi, Colibri tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Bagi warga Surabaya, sabun ini adalah simbol masa lalu—masa ketika kota mereka berdiri sebagai pusat industri besar sejak zaman kolonial hingga pasca kemerdekaan. Tutupnya Pabrik Colibri bukan hanya akhir dari sebuah usaha, melainkan juga penanda berubahnya zaman: dari era industri lokal menuju dominasi industri modern berskala global.
Warisan pabrik Colibri bagi generasi kini:
Jejak Pabrik Colibri memang telah pudar, bangunannya tak lagi berdiri gagah, dan produknya tak lagi menghiasi rak-rak toko. Namun, kisahnya tetap menjadi bagian penting dari sejarah industri Surabaya. Dari masa kolonial Belanda, kependudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga era modern, Colibri menjadi saksi bisu bagaimana sebuah kota bertumbuh melalui industri.
Bagi sebagian orang, aroma sabun Colibri adalah nostalgia mengingatkan pada masa kecil, pada rumah-rumah sederhana di Surabaya, dan pada kehidupan sehari-hari yang kini hanya tinggal kenangan. Bagi kota Surabaya, Colibri adalah simbol identitas sebagai pusat industri yang pernah berperan besar dalam perekonomian Hindia Belanda dan Indonesia merdeka.
Warisan Colibri bukan sekadar tentang sabun yang dulu pernah diproduksi, tetapi tentang cerita perjuangan, ketahanan, dan perubahan zaman. Ia mengajarkan bahwa setiap industri lokal punya nilai sejarah yang patut dikenang. Dari Colibri, generasi kini bisa belajar bahwa di balik sebuah produk sederhana, tersimpan kisah besar tentang perjalanan bangsa.
Referensi:
Dick, Howard. (2002). Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900–2000. Ohio University Press.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Foto dan arsip Pabrik Colibri, Surabaya (1950-an). https://disperpusip.jatimprov.go.id/katalog-arsip-online/
https://terassurabaya.com//2019/10/16/ngagel-industrial-estate-di-surabaya/
Kwartanada, D. (2001). Sejarah Kota Surabaya: Dari Industri Kolonial ke Kota Modern. Jakarta: Komunitas Bambu.
Mahendra, S. (2020). MAATSCHAPPIJ TER EXPLOITATIE DER COLIBRI FABRIEKEN N.V. Skripsi, Universitas Airlangga, Surabaya.
Nieuwe Courant 2-11-1946
Soerabaijasch Handelsblad 28-04-1941
Suryadinata, L. (2015). Industri dan Perdagangan di Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta: Ombak.
Haryono, A. (2018). Jejak Industri Sabun di Surabaya: Colibri dan Dinamika Ekonomi Kota. Jurnal Sejarah Lokal Indonesia.
Wow keren artikel nya
BalasHapusMakasih
Hapus