Jejak Pabrik Gula Ketintang: Sejarah Singkat dan Warisan di Surabaya

21 September 2025 pukul 02.23

Posted by Moch Septian Bagus Mahendra

Gambar pabrik gula tahun 1840 di daerah Ketintang surabaya
Sumber: https://pagaralampos.disway.id/read/727339/apakah-benar-perumahan-di-ketintang-surabaya-dahulunya-tempat-pabrik-gula-mari-kita-telusuri-jejaknya?

Gedung Operasional untuk pembuatan Gula tahun 1840an dan berubah fungsi menjadi pabrik beras di sekitar tahun 1900an Sumber: https://radarsurabaya.jawapos.com/surabaya/772705440/eks-pabrik-penyelepan-beras-di-ketintang-mengolah-padi-dari-sidoarjo-mojokerto-dan-jombang

    Pada permukaan kota Surabaya modern, banyak lapisan sejarah yang tersingkap salah satunya adalah bekas lokasi pabrik-pabrik gula yang pernah menjadi bagian penting ekonomi kota pada masa kolonial. Salah satu pabrik yang tercatat dalam catatan lokal adalah Pabrik Gula Ketintang (Suikerfabriek Ketintang), yang dahulu berdiri di wilayah Ketintang, Surabaya Selatan. Meski kini jejaknya banyak berubah menjadi perumahan dan bangunan lain, sisa-sisa arsitektur dan dokumen lama masih menyimpan cerita tentang bagaimana industri gula pernah membentuk wajah ekonomi dan sosial wilayah ini.

Latar belakang: industri gula di Jawa dan posisi Surabaya

    Industri gula di Jawa muncul kuat sejak abad ke-19, ketika politik agraria dan permintaan dunia mendorong pembangunan pabrik-pabrik gula (suikerfabriek) di banyak daerah pesisir dan dataran rendah. Jawa menjadi salah satu pusat produksi gula di Hindia Belanda, dan perkembangan pabrik-pabrik ini berkaitan erat dengan kebijakan kolonial, modal asing, serta mobilisasi tenaga kerja musiman dari desa-desa. Dalam konteks Surabaya, kawasan selatan kota pernah memiliki beberapa pabrik gula berdekatan — termasuk Ketintang, Karah, dan Dadoengan — yang menandai fungsi wilayah itu sebagai pusat pengolahan komoditas pertanian. 

Sejarah singkat Pabrik Gula Ketintang

   Berdasarkan riset lapangan dan catatan lokal, Pabrik Gula Ketintang didirikan pada abad ke-19 dan sempat berganti-ganti pemilik selama beberapa dekade. Beberapa catatan menyebut nama-nama pemilik dan pengelola keturunan Tionghoa lokal yang mengelola pabrik ini pada akhir abad ke-1800-an hingga awal abad ke-1900-an. Misalnya, pada periode tertentu pabrik ini tercatat dimiliki oleh Oi Tjik Tjoen (sekitar 1870), lalu berpindah ke Liem Bon Liong (1879–1888), dan kemudian ke The Twan Tjauw dan Lim Toan Kioe (1889–1903). Pada awal abad ke-20 ada catatan keterkaitan pemilik yang juga memiliki pabrik lain di kawasan Surabaya. 

    Pabrik Ketintang tercatat beroperasi normal pada awal abad ke-20 ada catatan produksi pada 1907 yang menunjukkan jumlah produksi gula (dihitung dalam pikol) — bukti bahwa pabrik ini pernah berkontribusi dalam produksi gula regional pada masanya. Namun, seperti banyak pabrik perkotaan lain yang menghadapi perubahan ekonomi dan persaingan, PG Ketintang mengalami penurunan dan akhirnya ditutup pada periode awal abad ke-20; beberapa sumber menyebut penutupan sekitar tahun 1920-an. Lahan pabrik kemudian beralih fungsi: sebagian menjadi pabrik beras, dan oleh 1925 beberapa bagian tanah dijual; akhir-akhirnya beberapa bekas areal pabrik berubah menjadi permukiman. 

Struktur fisik dan arsitektur

    Sisa-sisa fisik bekas pabrik — seperti bangunan administrasi, cerobong, dan beberapa struktur utilitas — masih bisa ditemukan (sebagian sudah termodifikasi). Bentuk-bentuk fasad pabrik gula era Hindia Belanda mengikuti tipologi industri kolonial: bangunan produksi luas dengan atap pelana, gudang panjang, ruang boiler dan cerobong yang menjulang, serta kantor administrasi bergaya arsitektur lokal-kolonial. Di Surabaya, kantor administrasi PG Ketintang menjadi salah satu jejak arsitektural yang dipelajari oleh pemerhati sejarah lokal sebelum bangunan berubah fungsi. 

Kantor administrasi pabrik gula/pabrik padi di Ketintang surabaya, lokasinya di Ketintang barat V Sumber: https://radarsurabaya.jawapos.com/surabayapedia/775363601/kantor-administrasi-pabrik-gula-ketintang-jejak-kejayaan-industri-gula-di-surabaya?

Peran ekonomi dan sosial

   Pabrik gula bukan hanya mesin ekonomi; mereka mempengaruhi kehidupan sosial di sekitarnya. Pabrik memerlukan pasokan tebu, yang mendorong munculnya kebun tebu di luar kota dan jaringan pemasok lokal. Selain itu, pekerja musiman (timbangan tenaga kerja panen) dan pekerja tetap di pabrik menciptakan komunitas kerja dengan pola kehidupan, tempat tinggal, dan pasar lokal yang khas. Di beberapa pabrik Jawa, pola hubungan pemilik–buruh, sistem upah musiman, dan migrasi kerja menjadi kajian penting untuk memahami dampak industrialisasi pada masyarakat desa-kota. Meskipun data rinci tentang tenaga kerja PG Ketintang terbatas di publik, pola umum ini sama seperti yang terjadi di pabrik-pabrik sejenis di Jawa. 

Penyebab penutupan dan transformasi lahan

    Penutupan pabrik-pabrik perkotaan seperti Ketintang biasanya disebabkan kombinasi faktor: menurunnya suplai tebu lokal, persaingan pabrik lain yang lebih besar (di pedalaman Jawa), perubahan kebijakan ekonomi kolonial dan pasca-kolonial, serta tekanan urbanisasi yang membuat lahan pabrik lebih bernilai jika dikonversi menjadi permukiman atau industri lain. Untuk PG Ketintang, catatan lokal menunjukkan penutupan sekitar 1920-an dan arus penjualan lahan pada 1925, yang kemudian memicu transformasi fungsi ruang menjadi pabrik beras dan permukiman. 

Warisan dan upaya pelestarian

   Jejak material pabrik gula di Surabaya kini menghadapi ancaman: pelupaan, pengrusakan, dan konversi fungsi. Namun ada peningkatan minat dari sejarawan lokal, komunitas heritage, dan media lokal yang mencoba mendokumentasikan sisa-sisa PG Ketintang sebagai bagian dari memori industri kota. Dokumentasi seperti artikel media, foto lama, dan arsip perusahaan menjadi penting untuk merekonstruksi peran pabrik ini dalam narasi sejarah Surabaya. Bagi peneliti atau penggiat sejarah, catatan lapangan (foto, bangunan sisa) dan arsip produksi merupakan sumber primer yang sangat berharga. 

---


Daftar Pustaka 

Liputan detikJatim tentang jejak Pabrik Gula Ketintang (reportase dan kutipan pegiat sejarah). 

Seri tulisan Radar Surabaya / Jawa Pos tentang bekas kantor administrasi dan sejarah lokal PG Ketintang. 

Tulisan populer “Menelusuri Jejak Pabrik Gula di Ketintang” (GoodNewsFromIndonesia). 

Buku & kajian akademik umum (industri gula Jawa dan konteks kolonial):

Sugar, Steam and Steel: The Industrial Project in Colonial Java, 1830–1885 — kajian menyeluruh tentang proyek industrialisasi gula di Jawa. (tersedia digital pada perpustakaan digital; penting untuk konteks). 

Ahmad Erani Yustika, Industri Gula Indonesia — kajian modern tentang struktur dan masalah industri gula nasional. 

Mubyarto, Masalah Industri Gula di Indonesia — kajian ekonomi-historis. 

Skripsi, tesis, dan artikel lokal tentang pabrik-pabrik gula Jawa Timur (contoh: studi tentang Pabrik Gula Meritjan, Djatie, dsb.) — banyak tersedia di repository universitas. 

Nationaal Archief (Belanda) / KITLV — arsip kolonial Belanda sering menyimpan laporan administrasi, peta, dan catatan perusahaan milik kolonial yang relevan untuk studi pabrik gula. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Pabrik Colibri: dari Masa ke Masa

Sejarah Pabrik Heineken di Surabaya: Dari Masa Kolonial hingga Jejak Warisan Kota